Newmont Akan Cabut Gugatan Arbitrase, Asal…

Tambang Newmont - Alat Berat Blog

Newmont berencana mendaftarkan gugatan arbitrase internasioanal lantaran mengeluhkan larangan ekspor mineral mentah dan beleid undang-undang (UU) No. 4/2009 tentang Minerba. “Saya minta Newmont ikutlah aturan kita,” kata Wacik di kantor Kementerian ESDM, Jumat (18/7/2014).

Wacik menambahkan, bila perusahaan asal Amerika Serikat (AS) membatalkan gugutannya, pemerintah akan memberikan solusi terbaik bagi semua. Pemerintah menurut dia tetap melindungi setiap investor yang melakukan investasi di dalam negeri.

Sayangnya, Wacik enggan menjelaskan lebih jauh, mengenai solusi yang bakal diberikan dalam menuntaskan keluhan perusahaan tambang tersebut. Ia menilai UU Minerba tetap wajib ditegakkan bagi seluruh perusahaan tambang.

jero-wacik - alat berat blog

“Ya kalau memang bakal melawan ya pemerintah tetap akan ladeni. Kami wajib menjalankan UU,” ujar Wacik.

Ia mengakui masih terus meyakinkan para pelaku usaha guna mengkuti setiap aturan nilai tambah di sektor tambang. “Kita terus yakinkan mereka. Saya berpikir kalau yang perusahaan dalam negeri saja nurut dengan UU Minerba, maka yang asing juga harus ikut,” tutur dia.

Dirjen Minerba, Kementerian ESDM, R Sukhyar sebelumnya menyatakan akan melakukan terminasi kontrak karya Newmont bila tidak mencabut gugatan arbitrase internasional yang diajukannya.

Hal ini telah disampaikan langsung kepada Presiden Direktur Newmont Martiono Hadianto dalam pertemuan di kantor Kementerian ESDM pada 8 Juli kemarin. Langkah terminasi bisa ditempuh pemerintah lantaran NNT tidak memiliki itikad baik.

Presiden Direktur NNT, Martiono Hadianto, sebelumnya mengatakan ketentuan baru yang diterapkan pemerintah terkait ekspor, bea keluar, serta larangan ekspor konsentrat tembaga yang akan dimulai Januari 2017, tidak sesuai dengan Kontrak Karya (KK) dan perjanjian investasi bilateral antara Indonesia dan Belanda.

Kebijakan itu dibutuhkan Newmont agar bisa mengekspor konsentrat emas dan tembaga yang sudah menumpuk hingga 80.000 ton. Perusahaan yang beroperasi di Sumbawa, NTB, ini sudah menghentikan kegiatan produksinya sejak 6 Juni 2014.

Selama 13 tahun beroperasi, perusahaan asal Amerika Serikat itu memberikan pemasukan cukup besar kepada pihak Indonesia dari hasil produksi emas dan tembaga di Tambang Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat. Pada periode 2000-2013, sebanyak 67,2% pendapatan perusahaan atau setara US$ 8,83 miliar disetorkan kepada pihak Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak US$ 3,1 miliar dibayarkan untuk pajak, nonpajak, dan royalti ke pemerintah pusat dan daerah, sedangkan dividen ke pihak Indonesia sebesar US$ 0,46 miliar. Selain itu, perusahaan memberikan lapangan kerja dan pemasukan kepada lebih dari 8.000 karyawan dan kontraktor serta keluarganya.

Kepala Departemen Komunikasi PT Newmont Nusa Tenggara Rubi Waprasa Purnomo mengatakan, pihaknya saat ini kesulitan ekspor karena tingginya bea keluar (BK). Untuk ekspor mineral dengan kandungan konsentrat tembaga di atas 15% dikenakan bea keluar sebesar 25% pada 2014. BK kemudian dinaikkan menjadi sebesar 35% pada semester I-2015, sebesar 40% semester II-2015,50% pada semester I-2016, dan 60% pada semester II-2016.

Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 6/ PMK.011/2014 tentang Perubahan Kedua atas PMK No 75/PMK011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.

“Kami akan kembali bisa mengekspor jika bea keluar tidak tinggi. Sekarang, walaupun sudah dirundingkan, masih tinggi sehingga Newmont kesulitan ekspor,” kata Rubi di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Rubi, tingginya bea keluar juga dikeluhkan perusahaan lain, seperti PT Lumbung Mineral dan PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO). Meski sudah mendapat izin ekspor, mereka belum bisa mengekspor karena tingginya bea keluar.

Rubi menjelaskan, ekspor Newmont terganggu sejak pemerintah memberlakukan larangan ekspor mineral mentah pada Januari lalu. Akibatnya, gudang penimbunan konsentrat yang memiliki kapasitas 80 ribu ton sudah penuh, sehingga tidak bisa menampung hasil produksinya. Hal itu menjadi alasan perusahaan untuk menghentikan proses produksi dan membuat ribuan pekerja dirumahkan sejak 6 Juni 2014.

Sumber : Energitoday & Inilah

Share This :

Komentar

About Author

alatberat

Jual Beli Alat Berat No.1 di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>